Jumat, 12 Oktober 2012

ANALISA SERANGAN UDARA JEPANG KE PEARL HARBOR TAHUN 1941 SEBAGAI PROSES PEMBELAJARAN TAKTIK DAN STRATEGI OPERASI UDARA





Penyerbuan atas Pearl Harbor oleh Jepang adalah salah satu sejarah yang masih selalu menarik untuk dibicarakan.    Sebuah tragedi  yang tidak akan pernah dilupakan oleh orang Amerika yang tercoreng wajahnya di Asia oleh Negara sekecil Jepang sekaligus mengawali Perang Pasifik Raya,  Keberhasilan Negara Jepang melakukan serangan terhadap Pearl Harbour  merupakan wujud dari perencanaan dan  analisa yang tepat dari para pemikir dan perencana perang bangsa Jepang.  Persiapan yang jauh-jauh hari dilaksanakan dan perhitungan yang matang dengan taktik penyerangan yang diuji, merupakan bagian yang sangat penting dalam menyiapkan serangan.  Pada tahap pelaksanaan penyerangan, Jepang melaksanakan secara mendadak dan tidak disangka oleh pihak Amerika Serikat.  Penyerangan yang dilakukan dua tahap ini menyebabkan kehancuran yang sangat besar bagi lawan dengan menggunakan kekuatan udara yang menghancurkan kapal-kapal, pesawat-pesawat dan fasilitas-fasilitas pendukungnya.
      
                  Dari pengalaman  tersebut dapat diambil suatu pelajaran berharga khususnya dalam strategi penggunaan kekuatan udara yang banyak menerapkan doktrin dan azas-azas perang udara.

Analisis Serangan Pearl Harbour.
Pada hakekatnya dalam menganalisis suatu perang udara tidaklah berdiri sendiri melainkan memerlukan pendekatan teori-teori yang berhubungan dengan perang udara.  Teori-teori yang dapat diaplikasikan adalah teori-teori yang relevan dengan kondisi yang ada saat itu, guna mendapatkan hasil analisis yang tajam dan komprehensif.




a.            Teori Labenstrum yang mengatakan bahwa bangsa yang maju mempunyai keinginan untuk melaksanakan ekspansi.  Berdasarkan teori ini maka sumber daya alam yang terbatas, kecepatan pertambahan jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan luas teritorial menjadikan Jepang berambisi untuk melaksanakan ekspansi dalam memenuhi kebutuhan sumber daya alam itu.   Menjelang Perang Dunia II, hampir sebagian besar negeri-negeri di Asia berada dalam jajahan Barat, dengan demikian Jepang harus mengambil kesempatan untuk menghancurkan kaum penjajah di Asia.  Amerika Serikat sendiri mempunyai kepentingan politik dan ekonomi serta mempertahankan status quo di Asia Timur, sehingga menentang setiap usaha Jepang untuk memperluas pengaruhnya di Asia, dengan cara mendirikan Pangkalan Militer di Pearl Harbour, meningkatkan bantuan militer dan keuangan kepada Cina serta menghentikan pengapalan minyak dan bahan-bahan mentah lainnya ke Jepang.   Kehadiran Pangkalan Militer Amerika di Pearl Harbour, Kep. Hawaii merupakan penghalang bagi rencana Jepang untuk melaksanakan invasi di wilayah Asia Tenggara.   Kondisi ini membuat Menteri Perang Jepang, Jenderal Hideki Tojo memilih berhadapan dengan Amerika Serikat, yaitu dengan cara menghancurkan Pearl Harbour agar Amerika Serikat tidak ikut campur dalam rencana invasi Jepang.  Perbandingan kelebihan dan kekurangan masing-masing pihak pada serangan tersebut adalah sebagai berikut :

           1)         Kelebihan Jepang.   Adapun kelebihan dari Jepang yang mendukung                 
            sehingga  terlaksananya serangan di Pearl Harbor, adalah :

    •  a)         Budaya.    Masyarakat Jepang mempunyai sifat dan budaya pantang menyerah dan bekerja keras yang telah berakar dan membudaya sejak masih anak-anak.   Budaya ini sangat dipegang teguh dan ditanamkan secara terus menerus hingga sekarang.   Salah satu Budaya yang sangat terkenal adalah “Harakiri”, dimana bila seseorang atau personil yang mendapat tugas secara resmi dan tidak dapat menyelesaikan dengan baik, maka yang bersangkutan akan melakukan bunuh diri atau menghilangkan sebagian tubuhnya karena malu dan untuk menebus atau membayar  kegagalannya.
    •  b)         Hirarki.   Kaisar merupakan tokoh pemersatu bagi Jepang, sehingga apa yang sudah diputuskan oleh Kaisar akan dijalankan dengan sepenuh hati tanpa ada penolakan, sehingga dalam mengatur dan mengelola masyarakat dan negara Jepang, tidak banyak terjadi persoalan-persoalan yang signifikan yang berdampak pada kestabilan dalam negara. Demikian pula  pada kurun waktu sebelum penyerangan Pearl Harbor, sebenarnya ada friksi di tubuh Angkatan Bersenjata Jepang, tetapi ketika Kaisar turun tangan, maka semua perselisihan tersebut dapat terselesaikan.c)         Strategi.   Jepang memanfaatkan beberapa kelemahan AS, yaitu persepsi Amerika Serikat terhadap bahwa Jepang tidak mungkin menyerang lewat udara karena jarak yang jauh, tetapi pada kenyataannya Jepang menggunakan kapal induk yang berlayar mendekati sasaran dan memberangkatkan pesawat-pesawatnya untuk menyerang Pearl Harbor.   Jepang memilih waktu hari Minggu pagi dan waktu yang tepat di saat tentara-tentara Amerika Serikat masih terlelap
      d)         Perencanaan.   Penyerangan rencanakan dan disusun  sangat cermat dengan didasari oleh data-data dan informasi yang aktual.     Perencanaan diikuti oleh personel yang be